JAKARTA — Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (BP2D) Provinsi Jawa Barat menggelar kegiatan pengamatan lapangan ke Sekolah Lansia Medistra Indonesia di Kampus STIKes Medistra Indonesia Bekasi, Jumat (24/7/2026). Peninjauan ini difokuskan pada pelaksanaan program Sekolah Lansia Standar 1 dan Standar 2 guna menyusun model integrasi perlindungan dan pemberdayaan lansia di tingkat provinsi.
Sebagai instansi yang pertama kali memprakarsai wadah edukasi lansia di Kota Bekasi, Sekolah Lansia Medistra Indonesia menyambut hangat perhatian dari pemerintah provinsi. Kepala Sekolah Lansia Medistra Indonesia sekaligus Staf Dosen, Lina Indrawati, S.Kep, Ns, M.Kep., menyatakan rasa syukurnya atas penunjukan ini.
“Hari ini adalah kegiatan sekolah lansia yang berjalan seperti biasa untuk standar 1 dan standar 2. Kami bersyukur ditunjuk sebagai salah satu sekolah yang menjadi observasi dari BP2D Provinsi Jawa Barat. Alasan utamanya karena sekolah kami menjadi sekolah pertama di Kota Bekasi dan menjadi pilot project untuk hadirnya sekolah lansia di seluruh kecamatan di Kota Bekasi,” ungkap Lina.
Perkembangan pesat ini juga diakui oleh Direktur Indonesia Ramah Lansia (IRL) Jawa Barat, Dr. Susiana Nugraha, SKM., MN. Ia menyoroti bagaimana inovasi pembelajaran membuat para peserta mengalami perubahan karakter yang signifikan.
“Perkembangan Sekolah Lansia Medistra sejak berdiri tahun 2023 lalu sudah sangat luar biasa. Kreativitas dan komitmen pengelolanya patut diacungi jempol karena inovasi-inovasinya membuat pembelajaran menyenangkan. Para peserta di Standar 2 maupun Duta Lansia kelihatan sekali bedanya: lebih mandiri, lebih produktif, lebih percaya diri, dan tentunya lebih menghargai serta mencintai dirinya sendiri,” papar Susiana.
Peneliti Ahli Madya BP2D Provinsi Jawa Barat, Dewi Gartika, S.Si., M.Si., menjelaskan bahwa observasi ini merupakan langkah konkret Pemprov Jabar dalam menyusun Rencana Aksi Daerah (RAD) agar penanganan lansia tidak berjalan secara parsial. Dengan keterbatasan kapasitas UPTD Griya Lansia yang hanya menampung 400 orang, dibutuhkan model pemberdayaan berbasis komunitas yang terintegrasi.
“Jawa Barat ini Pemda yang sangat progresif terhadap pembentukan manusia unggul, termasuk lansia. Angka harapan hidup meningkat dan lansia kita semakin sehat, tetapi jika tidak produktif, negara harus hadir. Kami melihat model nyata di Kota Bekasi untuk dipelajari manajerialnya, transfer knowledge-nya, hingga pelibatan antarpihak,” jelas Dewi Gartika.
Dewi juga menegaskan pentingnya keterlibatan seluruh perangkat daerah dalam mendukung hak-hak lansia.
“Urusan lansia bukan hanya urusan Dinas DPPKB atau Dinas Kesehatan. Penyediaan kawasan ramah lansia, misalnya, melibatkan Dinas Bina Marga. Lansia harus paham bahwa hak mereka tidak berkurang karena usia. Pesan saya buat para lansia di Jawa Barat: selalu berpikir positif. Usia boleh tua, tapi semangat tetap muda,” tambahnya.
Dukungan penuh juga disampaikan oleh Kepala Dinas DPPKB Kota Bekasi, Dr. dr. Kusnanto Saidi, MARS. Pemerintah Kota Bekasi terus berkomitmen menjalankan layanan jemput bola untuk pemeriksaan kesehatan rutin serta mendorong pembentukan Duta Lansia.
“Duta Lansia ini kita berdayakan menjadi agent of change agar para lansia menjadi SMART—Sehat, Mandiri, Aktif, Produktif, dan Bermartabat. Memasuki usia senja tidak lagi identik dengan kesedihan atau kesepian. Salah satu faktor lansia murung adalah kesepian. Dengan banyak kawan di Sekolah Lansia, mereka jadi ceria, bahagia, dan tetap berkarya,” ujar Kusnanto.
Pada sesi pembelajaran, Kabid Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga DPPKB Kota Bekasi, dr. Johny Timbul Pardomuan, MM., hadir memberikan pembekalan praktis mengenai gaya hidup sehat.
“Kami menyampaikan materi tentang tips hidup sehat lansia, mulai dari unsur fisik, pola makan, hingga pola hidup sehari-hari agar menjadi bekal nyata bagi mereka,” tuturnya.
Manfaat nyata dari program ini dirasakan langsung oleh para peserta. Ena Eni Kusumasuti, salah satu Duta Lansia Medistra, merasa tergerak untuk membagikan ilmu yang ia dapatkan kepada lingkungan sekitar.
“Di Sekolah Lansia Medistra, saya belajar banyak hal tentang kesehatan lansia untuk meningkatkan kualitas hidup. Harapan saya setelah lulus, saya bisa menjadi duta di masyarakat agar orang-orang lansia di sekeliling saya bisa ikut sehat,” kata Eni.
Semangat serupa disampaikan oleh Lina Kurnia Ningsih, peserta kelas Standar 1 yang telah memasuki usia 60 tahun.
“Motivasi saya ikut sekolah ini supaya tidak pikun dan tetap ada kegiatan. Kalau cuma diam di rumah pasti bosan dan gampang kesal. Tapi kalau banyak kegiatan, hidup jadi lebih bahagia. Di sini kita belajar bagaimana mandiri di usia tua tanpa terus mengandalkan anak-anak. Seru dan senang banget,” ungkap Lina dengan antusias.
Langkah kolaboratif antara BP2D Provinsi Jawa Barat, DPPKB Kota Bekasi, akademisi, dan kader lansia ini menegaskan bahwa masa tua bukanlah akhir dari produktivitas, melainkan babak baru untuk hidup lebih sehat, bahagia, dan bermartabat. Kehadiran model Sekolah Lansia Medistra Indonesia diharapkan dapat segera direplikasi di seluruh wilayah Jawa Barat, memastikan setiap lansia mendapatkan hak perlindungan dan pemberdayaan secara utuh dan terpadu.
SOLO – Tawa lepas, pelukan hangat, hingga cerita masa lalu mewarnai Silaturahmi Nasional Persatuan Pensiunan Nasional…
Jakarta – Sekolah Lansia Damai Sejahtera Bekasi Selatan, Bekasi sukses menyelenggarakan sesi pembelajaran penting mengenai…
JAKARTA – Suasana hangat dan penuh semangat menyelimuti Aula Kampus Universitas Bani Saleh, Bekasi. Puluhan…
JAKARTA – Atmosfer hangat dan penuh semangat menyelimuti Gedung RS PON Prof. Dr. dr. Mahar…
oppo_0 JAKARTA, Radio Lansia — Dalam rangka memperingati Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) 2026, Komunitas…
JAKARTA - Bertempat di Institut Nalanda, Pulo Gebang, Jakarta Timur, pada Rabu, 1 Juli 2026,…