Follow, Like, Share:
Official Store:

JAKARTA — Suasana hangat dan ceria menyelimuti aula Gereja St. Bartolomeus, Taman Galaxy, Bekasi Selatan pada Rabu pagi, 15 Juli 2026. Sebanyak puluhan warga senior berkumpul dengan antusiasme luar biasa untuk mengikuti pembelajaran ke-7 Sekolah Lansia KUN (Kasih Untuk Negeri) Bekasi Selatan. Pertemuan kali ini mengupas tuntas topik diabetes dan penyakit jantung, dua isu kesehatan yang sangat dekat dengan kehidupan lansia.
Selama ini, pelayanan rohani dan sosial bagi lansia di lingkungan gereja berjalan melalui kelompok Adiyuswo. Namun, kehadiran Sekolah Lansia KUN memberikan warna baru yang lebih dinamis, khususnya bagi mereka yang masih aktif dan produktif.
“Di gereja sendiri sudah ada namanya Adiyuswo yang menangani para lansia di gereja masing-masing. Tapi tidak semua orang Adiyuswo ikut di Sekolah Lansia karena ada keterbatasan fisik. Kalau di Sekolah Lansia ini diisi oleh mereka yang masih sehat, yang masih bisa datang mengikuti pembelajaran dan sebagainya. Akhirnya, kami menjadi wadah terpisah dari Adiyuswonya sendiri,” ujar MT Hery, Sekretaris I Sekolah Lansia KUN Bekasi.
Inisiatif kolaboratif ini dirintis untuk membawa program pemberdayaan lansia ke tingkat yang lebih personal dan masif di lingkungan komunitas iman. Kehadirannya disambut dengan gelombang ketertarikan yang luar biasa.
“Di sekolah ini kebetulan saya yang merintis semuanya. Kami diundang dari KUN untuk membuat sekolah lansia di gereja-gereja, setelah selama ini yang berjalan biasanya di tingkat kecamatan. Kami meluncurkannya pertama kali untuk seluruh Dekanat Bekasi pada 31 Januari 2026. Ini adalah pertemuan ketujuh. Mereka sangat antusias! Terbukti pada gelombang pertama pendaftarnya mencapai 94 orang, dan karena peminat yang terus melimpah, setelah berjalan tiga bulan kami langsung membangun gelombang kedua,” jelas Katarina Lucky Fariyanti, Sekretaris Lansia Gereja St. Bartolomeus.

Dalam sesi pembelajaran ke-7 ini, para peserta mendapatkan bimbingan langsung dari ahli medis untuk memahami seputar diabetes, serta gejala dan penanganan cepat penyakit jantung koroner. Edukasi taktis seperti ini sangat krusial agar para lansia tidak lagi abai terhadap sinyal bahaya dari tubuh mereka.
“Tadi aku ngajar tentang penyakit jantung koroner. Itu penting dan krusial banget karena nyeri dada bisa datang kapan saja. Bagaimana penanganannya? Apakah itu benar jantung atau tidak? Penentuannya harus sangat cepat, karena penyakit jantung koroner itu kita bermain dengan waktu. Jadi kalau ada nyeri dada itu jangan dianggap enteng. Apapun masalahnya tetap diperiksakan dulu, utuk ditentukan apakah ini betul karena jantung atau bukan jantung,” jelas dr. Sylvie Margharetha, Praktisi Medis RS Mitra Keluarga Bekasi Timur & Narasumber Pembelajaran.
Lebih lanjut, dr. Sylvie mengingatkan pentingnya menjaga pola hidup sehat untuk mengontrol faktor risiko bawaan. Beliau berpesan agar para lansia rajin berolahraga, tetap bersemangat, mengelola stres dengan baik, serta aktif mencari dukungan sosial dari keluarga dan komunitas.
Materi-materi aplikatif inilah yang dirasakan membawa dampak perubahan nyata pada pola pikir dan keseharian para peserta.
“Perkembangan persekolahan itu membuat mereka tambah bahagia, ya. Tambah bahagia, tambah percaya diri, dan mereka selalu termotivasi menjaga Kesehatan,” jelas Andy Kim, Wali Kelas Sekolah Lansia KUN Bekasi Selatan sekaligus Ketua Umum Adiyuswo Gereja St. Bartolomeus.

Bagi para peserta, berkumpul kembali di bangku sekolah bukan sekadar formalitas, melainkan ruang berharga untuk merayakan berkah usia panjang dengan menyebarkan energi positif kepada sesama rekan sejawat.
“Sebelum ada sekolah lansia, saya memang sering memotivasi teman-teman karena pernah sepuluh tahun menjadi Ketua Lansia di sini. Motivasi mengikuti Sekolah Lansia ini ya supaya tetap gembira. Kita tua boleh, dan harus bersyukur dengan adanya usia, karena ternyata tidak semua orang kan sampai menikmati usia lanjut. Nah, sebagai syukur saya atas usia lanjut ini, saya harus merangkul teman-teman lansia untuk tetap mensyukuri apa yang sudah Tuhan berikan,” ungkap Josepha Maria Sumiatun, Peserta Sekolah Lansia.
“Silakan untuk hadir di dalam kegiatan sekolah ini. Terutama kita bisa berkumpul bersama, mendapatkan informasi yang sangat positif, dan sangat mencerahkan untuk kegiatan-kegiatan berikutnya. Sehingga usia lanjut itu lebih bermakna,” tambah Fx Tugyono, Pengurus Lansia Gereja St. Bartolomeus mengajak para lansia bergabung di Sekolah Lansia KUN Bekasi Selatan.
Sekolah Lansia KUN Bekasi Selatan telah membuktikan bahwa menua bukanlah alasan untuk berhenti belajar dan membatasi diri. Melalui jembatan kebersamaan yang dibangun di Gereja St. Bartolomeus ini, para warga senior diajak untuk memeluk masa tua dengan penuh kehormatan, sukacita, dan kemandirian.