Follow, Like, Share:
Official Store:

Jakarta – Sekolah Lansia Medistra Indonesia, yang didirikan oleh STIKes Medistra Indonesia, telah menjadi oase bagi para lanjut usia (lansia) di Bekasi. Berawal dari kepedulian atas kebutuhan lansia akan wadah komunitas dan edukasi, sekolah ini kini bertransformasi menjadi pusat pembelajaran yang aktif dan produktif, membuktikan bahwa semangat belajar tidak mengenal batas usia.
Didirikan pada tahun 2023, Sekolah Lansia ini merupakan perwujudan visi humanistik STIKes Medistra Indonesia dan bentuk pengabdian kepada masyarakat di wilayah binaan.

“Awalnya itu gagasannya dari kegiatan praktik mahasiswa di wilayah binaan kami. Bahwa ternyata Lansia di sekitar Kelurahan, bahkan di Kecamatan Rawalumbu ini butuh wahana atau komunitas khusus untuk bisa berkumpul dan juga menuangkan hobi, minat dan untuk kegiatan sharing seputar Lansia,” ujar Lina Indrawati, S.Kep, Ns, M.Kep., Kepala Sekolah Lansia Medistra Indonesia.
Melalui kerja sama dengan Indonesia Ramah Lansia (IRL) Jawa Barat, sekolah yang awalnya bernama Sekolah Lansia Cempaka ini resmi dibuka, bahkan peresmian pertamanya dihadiri oleh Plt. Wali Kota Bekasi saat itu, Bapak Tri Adhianto.

Saat berbincang dengan Radio Lansia (7/11), Lina mengungkapkan peran Sekolah Lansia Medistra Indonesia sebagai pionir dan lokomotif berdirinya Sekolah Lansia di Kota Bekasi. Dukungan penuh dari Pemerintah Kota Bekasi sejak awal telah memicu gerakan masif untuk meningkatkan kualitas hidup lansia.
“Alhamdulillah, support dari pemerintah kota Bekasi, itu dari awal kita membuka sekolah ini, pemerintah kota Bekasi sudah terlibat,” ujar Lina.
Senada dengan Lina, Dr. Bdn. Lenny Irmawaty Sirait, SST., M.Kes., Ketua STIKes Medistra Indonesia menjelaskan bahwa STIKes memberikan perhatian tersendiri pada lansia.

“Jadi salah satu sasaran kami itu adalah kelompok lansia, atau kalau di dalam keperawatan itu gerontik. Jadi dengan jalan itu kami bekerjasama dengan Indonesia Ramah Lansia yang ada di Jawa Barat, dan kami juga sudah ber-MoU dengan Pemda Jawa Barat,” ujar Lenny.
“Jadi dengan dimulai kerjasama dengan Indonesia Ramah Lansia di tahun 2023, tepatnya Juli kami melaksanakan training of trainer. Jadi seluruh dosen di STIKes Medistra Indonesia melalui training of trainer yang diadakan IRL, dan kami dijadikan sebagai sukarelawan. Karena IRL ini memiliki kurikulum tersendiri khusus untuk sekolah lansia,” lanjut Lenny menjelaskan.
Sekolah Lansia Medistra Indonesia menawarkan kurikulum berjenjang yang dirancang oleh IRL, mulai dari Standar 1 hingga Standar 3, sebelum akhirnya para lulusan menjadi Duta Lansia.

Lisna Agustina, S.Kep, Ns. M.Kep., Bagian Kurikulum, menekankan fokus kurikulum pada konsep belajar sepanjang hayat dan kesehatan diri. Standar 1 berfokus pada manajemen kesehatan diri, sementara Standar 3 lebih aplikatif.
“Standar 1, itu lebih ke konsep kesehatan-kesehatan yang bermanfaat untuk dirinya sendiri. Manajemen kesehatan, manajemen diri,” ujar Lisna. “Standar tiga lebih aplikatif lagi, bagaimana menangani pada saat mengalami misalnya tersedak, keracunan, ada yang jatuh tiba-tiba, lebih aplikatif,” lanjut Lisna.
Materi pembelajaran disajikan oleh para dosen relawan. Kiki Deniati, S.Kep, Ns, M.Kep., Ka. Prodi S1 Keperawatan saat berbincang dengan Radio Lansia (7/11) menyampaikan materi vital mengenai hipertensi yang ia sajikan pada hari itu.

“Sangat urgensi saya rasa, karena memang hipertensi ini merupakan salah satu pembunuh pertama yang ada di negara kita, Indonesia. Jadi memang salah satu yang harus dilakukan pada pasien-pasien yang sudah terdiagnosa hipertensi itu adalah yang pertama dia harus kontrol teratur, minum obat secara teratur, dan tentunya dia menjalankan lifestyle yang baik,” ujar Kiki.
Keunikan lain dari Sekolah Lansia ini adalah pilihan untuk menyelenggarakan kegiatan belajar di lingkungan kampus STIKes Medistra Indonesia.
“Jadi awal sekali kami mendirikan sekolah lansia itu, kelas pertama itu di Kelurahan Sepanjang Jaya sebagai wilayah binaan STIKes Medistra Indonesia. Namun karena peminatnya sangat tinggi, kami membuka diri, silakan kami ready, siap di kampus STIKes Medistra. Nah sejak pertemuan kedua, lansia merasa senang berada di dunia kampus,” ujar Lenny.
“Mereka merasa nyaman, dan merasa diayomi oleh kami tenaga-tenaga sukarelawan yang juga notabenenya adalah dosen STIKes Medistra Indonesia. Sehingga pertemuan ketiga, dan selanjutnya mereka di kampus,” lanjut Lenny.
Lina Indrawati saat berbincang dengan Radio Lansia menjelaskan bahwa salah satu kendala awal para peserta adalah komitmen kehadiran, namun hal itu teratasi seiring lansia menikmati suasana belajar yang santai dan dukungan fasilitas yang lengkap. Bahkan, mereka memiliki berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang menarik.

“Ekskul sekolah itu mulai dari line dance, kemudian menjahit, kemudian deco page, kemudian ada juga paduan suara, angklung. Nah itu mereka punya jadwal latihan sendiri di sini. Hal-hal itulah yang membuat mereka itu menarik untuk terus sekolah lagi,” ujar Lina.
Kegiatan sekolah lansia secara langsung memberikan dampak positif yang signifikan. Salah satu peserta, Delfi Siregar, merasakan betul manfaatnya.
“Saya sangat tertarik dengan sekolah lansia ini, karena sekarang ini kan banyak lansia yang jadi pelupa, tetapi dengan kita mengikuti sekolah lansia ini, membuat kita bahagia, senang, banyak teman, terus pengetahuan banyak…. Sangat banyak manfaatnya untuk kesehatan lansia,” ujar Delfi.
Saat ini, Sekolah Lansia Medistra Indonesia telah memiliki dua kelas aktif, terdiri dar 121 siswa di Standar 1 dan 101 siswa di Standar 3, dengan harapan ke depan para lansia binaan dapat terus berkarya, menjadi lansia yang bermartabat, happy, dan produktif.