Follow, Like, Share:
Official Store:

Good bye
Bukan hanya judul sebuah lagu
@yudhaheryawanasnawi
__
Lagu Goodbye dari grup musik Air Supply, yang berasal dari Australia, tiba-tiba hadir kembali di ingatan saya. Lagu itu pernah menjadi teman senyap di masa SMA, ketika nada dan liriknya seakan berbicara lebih jujur daripada kata-kata kita sendiri. Ada bait yang kini menyentuh lebih kuat I can’t forget the feeling of your touch, the memory of your smile will never fade away. Dahulu hanya saya dengar sebagai lagu cinta remaja, namun kemarin ia menjelma menjadi gema kehidupan. Seorang sahabat SMA telah kembali ke pangkuan keabadian, dan seorang sahabat lain harus berjalan ke jalan tugas yang baru. Goodbye tak lagi sebatas lirik, melainkan bahasa jiwa yang menguji keikhlasan.
Perpisahan memang tidak pernah sederhana. Ia datang tanpa mengetuk, meninggalkan ruang yang tak mudah diisi. Ada tangan yang ingin lebih lama digenggam, ada senyum yang tertinggal di balik ingatan, ada suara yang masih berbisik meski pemiliknya tak lagi hadir. Namun justru di sanalah kehidupan memberi pelajaran, bahwa kebersamaan hanyalah titipan, dan setiap titipan suatu saat harus kembali. Yang pergi bukan untuk menghapus, melainkan untuk menegaskan betapa berharganya setiap detik yang pernah kita miliki bersama.
Sahabat yang berpulang telah menyelesaikan perjalanannya dengan tenang, lebih dahulu sampai di pelabuhan terakhir yang suatu hari akan kita tuju bersama. Lagu Goodbye pun saya dengar bukan sebagai ratapan, melainkan sebagai doa yang mengiringinya dengan cahaya. Dari dirinya saya belajar, bahwa kematian bukan kegelapan, melainkan pintu menuju ruang yang lebih lapang. Rindu mungkin menyesakkan, tetapi di baliknya ada keyakinan bahwa jiwa-jiwa yang ikhlas akan bertemu kembali dalam keabadian.
Sementara sahabat yang berpindah tugas, ia tidak hilang. Ia hanya menempuh jalur lain, seperti arus yang meninggalkan satu tepian untuk menemukan tepi yang baru. Kata goodbye baginya bukan pemisah, melainkan salam singkat yang meneguhkan bahwa persaudaraan ini akan tetap berlanjut. Kita mungkin tidak lagi berbagi ruang yang sama, tetapi kita masih berjalan dalam arah yang berdekatan, diikat oleh kenangan dan cita yang tidak bisa dipindahkan oleh jarak.
Dari keduanya saya belajar bahwa goodbye adalah cermin yang memantulkan arti melepas. Ia mengajarkan bahwa menerima bukan berarti menyerah, dan melepaskan bukan berarti kehilangan. Ada keteduhan di dalam sikap lapang, ada kekuatan yang lahir dari kesediaan untuk melanjutkan langkah. Hidup tidak hanya tentang menahan yang pergi, melainkan tentang menjaga yang telah diberi, sembari menyiapkan diri untuk babak-babak baru yang menanti.
Saya memilih goodbye bukan untuk menyimpan duka, melainkan hikmah. Pertemuan adalah anugerah, perpisahan adalah pengingat, dan keduanya adalah guru kehidupan. Sahabat yang berpulang mengajarkan arti kefanaan, sahabat yang berpindah mengajarkan arti keberlanjutan. Di titik ini, lirik lagu itu seakan kembali membisikkan I know this is the hardest thing to do, to lose the love you gave me once is true. Cinta, persaudaraan, dan kenangan yang pernah kita miliki akan tetap hidup, tidak hilang, hanya berganti bentuk.
Akhirnya, hanya doa yang saya titipkan. Untuk sahabat yang telah meninggal, semoga perjalananmu diterangi cahaya, dilapangkan jalanmu, dan diterima segala amalmu. Untuk sahabat yang berpindah tugas, semoga medan barumu dipenuhi berkah, keteguhan, dan kejayaan. Dan biarlah goodbye bergaung dengan janji yang lain dari lirik itu I can’t forget the way you made me feel, but even if you’re gone, the love will still be real. Karena sesungguhnya, tidak bersama bukan berarti berpisah. Goodbye hanyalah jeda dalam perjalanan, sementara cinta dan persahabatan akan tetap hidup, melampaui ruang, waktu, dan batas manusia.
Yudha Heryawan Asnawi