Follow, Like, Share:
Official Store:

Emotional Turbulance, Qolqolah al Qolb
apa pun itu namanya
@yudhaheryawanasnawi
Setiap orang pasti pernah merasakan hatinya goyah atau jiwanya tergoncang. Kadang datang tiba-tiba seperti angin kencang yang merobek ketenangan, kadang perlahan seperti riak kecil yang terus membesar di permukaan air. Rasa itu bisa berupa cemas, takut, rindu, atau sekadar kegelisahan yang tak jelas asal-usulnya. Ia sebenarnya bukan musuh yang asing, melainkan bagian dari perjalanan manusia yang tidak pernah sepenuhnya lurus dan tenang.
Hal-hal tersebut oleh sains modern disebutnya sebagai emotional turbulance, sedangkan dalam dunia sufisme hal itu dikenali sebagai qolqolah al qolb. Dua istilah dari dua dunia yang berbeda, namun keduanya menunjuk pada satu pengalaman yang sama, yaitu ketika jiwa bergetar dan tidak stabil. Istilah boleh berbeda, tetapi getarannya dirasakan serupa, getaran yang membuat manusia sadar bahwa dirinya rapuh sekaligus penuh kemungkinan.
Ketidakstabilan itu sering muncul justru di tengah kesibukan hidup sehari-hari. Ada ambisi yang ingin dikejar, ada tuntutan yang harus dipenuhi, ada harapan yang dimunculkan dari banyak arah. Dalam waktu yang sama hadir juga ketakutan kehilangan, kecemasan akan masa depan, dan kebimbangan yang sulit diberi jawaban. Kegundahan itu bukan sekadar urusan batin pribadi, melainkan pantulan dari banyak kepentingan yang saling bersilang dalam hidup manusia.
Dari sana terlihat sesuatu yang lebih dalam. Kegundahan atau Keguncangan tidak harus dipandang sebagai kegoyahan semata, melainkan sebagai tanda bahwa jiwa sedang mencari arah. Emotional turbulance menjelaskan sebagai batas rapuh tubuh dan pikiran, sementara qolqolah al qolb membuka sisi terdalam yaitu hati yang rindu akan sesuatu di luar dirinya. Satu sisi menjelaskan secara rasional, sisi lain menyingkap secara spiritual, dan keduanya bersama-sama memberi gambaran yang lebih utuh tentang manusia.
Kegelisahan memang punya logikanya sendiri. Sains menjelaskannya lewat denyut jantung, aliran hormon, dan reaksi saraf, sementara sufisme memaknainya sebagai getaran hati yang sedang dipanggil menuju kesadaran lebih tinggi. Maka rasa cemas atau takut bukan sekadar gejala yang harus dihindari, melainkan detik-detik ketika manusia sedang disentuh oleh dua dunia sekaligus, dunia jasad yang terbatas dan dunia ruhani yang tak berbatas.
__
Dalam kehidupan sehari-hari, semua itu bisa terlihat sederhana: ketika seseorang resah menanti keputusan besar, ketika kehilangan membuat dada terasa hampa, atau ketika ia harus memilih antara keinginannya sendiri dan tuntutan orang-orang yang ada di seelilingnya. Di situ emotional turbulance muncul lewat kegelisahan fisik dan mental, sementara qolqolah al qolb hadir sebagai bisikan batin yang mengajak hati menimbang ulang arah yang dituju.
Pada akhirnya, keguncangan jiwa adalah bagian dari hidup itu sendiri. Emotional turbulance memberi bahasa ilmiah untuk menjelaskannya, qolqolah al qolb memberi bahasa ruhani untuk memaknainya. Keduanya tidak bertentangan, justru saling melengkapi, memperlihatkan bahwa di dalam setiap gelombang kegelisahan selalu tersimpan kesempatan bagi manusia untuk mengenali dirinya lebih dalam dan menemukan keseimbangan yang lebih jernih.
Yudha Heryawan Asnawi